Klasifikasi Lafadz dari Segi
Kejelasan:
Dhahir, Nash, Muhkam, dan Mufassar
Suatu dalil (nash) dapat dikatakan jelas apabila dapat
dipahami langsung dari nash itu tanpa bergantung kepada qarinah
(tanda) dari luar nash. Setiap Nash yang sudah jelas dilalahnya wajib
dilaksanakan sesuai dengan dilalah-nya tidak boleh ditakwilkan sekalipun
nash itu dapat ditakwilkan terkecuali memang ada petunjuk yang
menunjukkan takwilnya.
Klasifikasi Kejelasan Lafadh
Para ahli ushul membagi nash yang dilalahnya jelas
menjadi empat macam, yaitu; dhahir, nash, muhkam, dan mufassar.
1. Lafadh Dhahir
Dhahir (ظاهر) menurut bahasa adalah jelas.
Contoh:
a. ayat tentang
riba: Q.S al-Baqarah: 275:
.... وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ
الرِّبٰواۗ ...
b. ayat tentang
nikah: QS. An-Nisa’: 3:
.... فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ
النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا
فَوَاحِدَةً ا ...
Hukum lahir (dhahir) dalam
ayat tersebut adalah bisa ditakwil, yaitu memalingkan dari arti dhahirnya
dan perlu makna lain, misalnya ditakhshish apabila umum, ditaqyid
apabila mutlaq, dan bisa diambil makna majaznya tetapi bukan makna
hakekatnya.
2. Nash
Kata Nash (نصّ) menurut bahasa berarti munculnya segala
sesuatu yang kelihatan atau tampak.
Nash adalah suatu lafadh yang menunjukkan hukum dengan jelas, yang
diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan ditakhṣīṣ
dan dita’wil yang memungkinkannya lebih lemah.
Contoh 1: QS. An-Nisa`: 3:
.... فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ
النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا
فَوَاحِدَةً ا ...
Contoh 2: QS. Al-Hasyr:
7:
.... وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا
نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ ...
Contoh 3: QS. al-Maidah: 38:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْٓا
اَيْدِيَهُمَا جَزَاۤءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ
عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Hukum nash adalah wajib selama belum ada
petunjuk yang dapat dijadikan alasan untuk memalingkannya kearti yang lain
dengan cara takwil dan dinasakh pada zaman Rasulul Allâh saja.
3. Muhkam
Muhkam (محكم) menurut bahasa diambil dari kata “Ahkama”
(أحكم),
yang berarti “aqtana”, yaitu pasti dan tegas.
Muḥkām menduduki posisi tertinggi dalam kejelasan di antara
derajat-derajat kejelasan lafadh. Muḥkām menunjukkan makna yang jelas dan tidak
ada kemungkinan ta’wil, takhṣhīṣh, dan naskh.
Contoh: QS. An-Nur: 4:
.... وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَادَةً اَبَدًاۚ ...
Dilalah muhkam wajib diamalkan secara qath’iy,
tidak boleh dipalingkan dari lafazh asalnya dan tidak boleh dihapus.
4. Mufassar
Lafadh Mufassar (مفسّر) adalah kata (lafadh) yang jelas
petunjuk maknanya ke arah makna yang dimaksud sebagai tafsiran, dan karenanya
tidak mungkin lagi ditakwil maupun ditakhshish akan tetapi bisa
dinyatakan (dinash) pada zaman Rasul Alah sas.
Contoh:
a. Tentang
hukuman (hadd): QS: An-Nur: 2:
اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ
مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ ...
b. Tentang
memerangi orang musyrik: QS: At-Taubah: 36:
.... وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً ...
Lafadh mufassar wajib diamalkan secara qath`iy,
sepanjang tidak ada dalil yang me-nasakh-nya. Lafadh mufassar
tidak mungkin dipalingkan artinya dari dhahirnya, karena tidak munghkin
di ta’wil dan di takhsis, melainkan hanya bias di-nasakh-kan atau di ubah
apabila ada dalil yang mengubahnya.
Baca uraian selengkapnya dapat dibaca di TULISAN singkat ini.
Wa Allâh a’lam
bis-shawab
---ms2f—
Daftar Pustaka:
*********************
ditulis oleh: H. Mahlail Syakur Sf. (Dosen FAI Unwahas Semarang, Ketua LTN PWNU Jawa Tengah)