Rabu, 21 Oktober 2020

Klasifikasi Lafadh dari Segi Ke-Tidak Jelasan Makna: - MS2F

Klasifikasi Lafadh dari Segi Ke-Tidak Jelasan Makna:

Kkhafî, Musykil, Mujmal, dan Mutasyâbih

H. Mahlail Syakur Sf.

e-mail: syakur@unwahas.ac.id

 

Setiap nassh dalam al-Qur`ân maupun hadits mempunyai banyak kemungkinan makna. Ada yang jelas maknanya dan ada yang belum/tidak jelas makna lafadhnya. Yang pertama telah dibahas pada pertemuan sebelum ini. Dan yang kedua sedang didiskusikan di sini.

Apa saja yang termasuk Lafadh yang tidak jelas maknanya? Dan bagaimana kaidahnya?  

Lafal dari segi ketidakjelasan pada dalalah-nya menurut ulama Hanafiyah terbagi menjadi empat bagian yaitu : khafî, musykil, mujmal , dan mutasyâbih.

 Selengkapnya dapat di baca di Makalah ini.

Kamis, 15 Oktober 2020

Kejelasan Lafadh-MS2F

 

Klasifikasi Lafadz dari Segi Kejelasan:

Dhahir, Nash, Muhkam, dan Mufassar


 

Suatu dalil (nash) dapat dikatakan jelas apabila dapat dipahami langsung dari nash itu tanpa bergantung kepada qarinah (tanda) dari luar nash. Setiap Nash yang sudah jelas dilalahnya wajib dilaksanakan sesuai dengan dilalah-nya tidak boleh ditakwilkan sekalipun nash itu dapat ditakwilkan terkecuali memang ada petunjuk yang menunjukkan takwilnya.


Klasifikasi Kejelasan Lafadh

Para ahli ushul membagi nash yang dilalahnya jelas menjadi empat macam, yaitu; dhahir, nash, muhkam, dan mufassar.

  

1.      Lafadh Dhahir

Dhahir (ظاهر) menurut bahasa adalah jelas.

Contoh:  

a.    ayat tentang riba: Q.S al-Baqarah: 275:

....  وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ  ... 


 

b.    ayat tentang nikah: QS. An-Nisa’: 3: 

....  فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً ا ...  


Hukum lahir (dhahir) dalam ayat tersebut adalah bisa ditakwil, yaitu memalingkan dari arti dhahirnya dan perlu makna lain, misalnya ditakhshish apabila umum, ditaqyid apabila mutlaq, dan bisa diambil makna majaznya tetapi bukan makna hakekatnya.

 

2.      Nash

Kata Nash (نصّ) menurut bahasa berarti munculnya segala sesuatu yang kelihatan atau tampak. 

Nash adalah suatu lafadh yang menunjukkan hukum dengan jelas, yang diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan ditakhṣīṣ dan dita’wil yang memungkinkannya lebih lemah.

Contoh 1: QS. An-Nisa`: 3:  

....  فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً ا ...  


Contoh 2: QS. Al-Hasyr: 7:

....  وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ  ...

Contoh 3: QS. al-Maidah: 38:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْٓا اَيْدِيَهُمَا جَزَاۤءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ


Hukum nash adalah wajib selama belum ada petunjuk yang dapat dijadikan alasan untuk memalingkannya kearti yang lain dengan cara takwil dan dinasakh pada zaman Rasulul Allâh saja. 

 

3.      Muhkam

Muhkam (محكم) menurut bahasa diambil dari kata “Ahkama” (أحكم), yang berarti “aqtana”, yaitu pasti dan tegas. 

Muḥkām menduduki posisi tertinggi dalam kejelasan di antara derajat-derajat kejelasan lafadh. Muḥkām menunjukkan makna yang jelas dan tidak ada kemungkinan ta’wil, takhṣhīṣh, dan naskh.

Contoh: QS. An-Nur: 4: 

....   وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَادَةً اَبَدًاۚ   ...


 Dilalah muhkam wajib diamalkan secara qath’iy, tidak boleh dipalingkan dari lafazh asalnya dan tidak boleh dihapus. 

 

4.      Mufassar

Lafadh Mufassar (مفسّر) adalah kata (lafadh) yang jelas petunjuk maknanya ke arah makna yang dimaksud sebagai tafsiran, dan karenanya tidak mungkin lagi ditakwil maupun ditakhshish akan tetapi bisa dinyatakan (dinash) pada zaman Rasul Alah sas.  

Contoh:

a.    Tentang hukuman (hadd):  QS: An-Nur: 2: 

اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ  ...

 

b.    Tentang memerangi orang musyrik: QS: At-Taubah: 36:

....  وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً  ...

 Lafadh mufassar wajib diamalkan secara qath`iy, sepanjang tidak ada dalil yang me-nasakh-nya. Lafadh mufassar tidak mungkin dipalingkan artinya dari dhahirnya, karena tidak munghkin di ta’wil dan di takhsis, melainkan hanya bias di-nasakh-kan atau di ubah apabila ada dalil yang mengubahnya.  

Baca uraian selengkapnya dapat dibaca di TULISAN singkat ini.




Wa Allâh a’lam bis-shawab

---ms2f—

 

Daftar Pustaka:

Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008).

Jazuli, A., Ushul Fiqh: Metodologi Hukum Islam, Ed. 1, cet. I, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000).

Syafe’i, Rahmat, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: Pustaka Setia, 2007).

Khalaf, Abdul Wahab, Ushul Fiqh, (Kaira: Dar al-Qalam, 1978).  

 

 

*********************

ditulis oleh: H. Mahlail Syakur Sf. (Dosen FAI Unwahas Semarang, Ketua LTN PWNU Jawa Tengah)



Senin, 16 Desember 2019

Fiqh Muhammadiyyah karya K.H. Ahmad Dahlan

KITAB FIQH K.H. AHMAD DAHLAN







Kitab Fiqih Muhammadiyyah ini diterbitkan oleh Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta pada tahun 1343 H./1925 M.

Kitab merupakan dalil dan saksi bisu bahwa amaliah kedua ulama besar Muhammadiyyah dan NU tidak berbeda. Di antaranya:

1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardla .…” (halaman 25),
2. Setelah takbiratul ihram membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdu lillahi Katsira …” (halaman 25).
3. Membaca surat al-Fatihah memakai basmalah: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26).
4. Setiap shalat Shubuh membaca do'a Qunut (halaman 27).
5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).
7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
8. Shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).

KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.

Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang, ulama besar yang telah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.

Unduh kitabnya di SINI
https://drive.google.com/file/d/12xJEs-lyVhRGc9sjDW_8X6tCIkpknNjQ/view?usp=sharing